Sometimes Negative Feedback is Best (HBR) – Waroeng Tegal


Sometimes Negative Feedback is Best
Heidi Grant Halvorson
JANUARY 28, 2013

SAVE
SHARE
COMMENT
TEXT SIZE
PRINT
Sometimes Negative Feedback is Best

RECOMMENDED
HBR Guide to Managing Conflict at Work Ebook + Tools
COMMUNICATION BOOK Amy Gallo
49.95 ADD TO CART
SAVE SHARE

Culture Is Not the Culprit
ORGANIZATIONAL DEVELOPMENT HBR ARTICLE Jay W. Lorsch, Emily McTague
8.95 ADD TO CART
SAVE SHARE

An Antidote to Incivility
LEADERSHIP & MANAGING PEOPLE HBR ARTICLE Christine Porath
8.95 ADD TO CART
SAVE SHARE
If I see one more article or blog post about how you should never be “critical” or “negative” when giving feedback to an employee or colleague (or, for that matter, your children), I think my head will explode. It’s incredibly frustrating. This kind of advice is surely well meant, and it certainly sounds good. After all, you probably don’t relish the thought of having to tell someone else what they are doing wrong — at minimum, it’s a little embarrassing for everyone involved.

But avoiding negative feedback is both wrong-headed and dangerous. Wrong-headed because, when delivered the right way, at the right time, criticism is in fact highly motivating. Dangerous because without awareness of the mistakes he or she is making, no one can possibly improve. Staying “positive” when doling out feedback will only get you so far.

Hang on, you say. Can’t negative feedback be discouraging? Demotivating?

That’s perfectly true.

And don’t people need encouragement to feel confident? Doesn’t that help them stay motivated?

In many cases, yes.

Confusing, isn’t it? Thankfully, brilliant new research by Stacey Finkelstein (Columbia University) and Ayelet Fishbach (University of Chicago) sheds light on the seemingly paradoxical nature of feedback, by making it clear why, when, and for whom negative feedback is appropriate.

It’s important to begin by understanding the function that positive and negative feedback serve. Positive feedback (e.g., Here’s what you did really well….) increases commitment to the work you do, by enhancing both your experience and your confidence. Negative feedback (e.g., Here’s where you went wrong….), on the other hand, is informative — it tells you where you need to spend your effort, and offers insight into how you might improve.

Given these two different functions, positive and negative feedback should be more effective (and more motivating) for different people at different times. For instance, when you don’t really know what you are doing, positive feedback helps you to stay optimistic and feel more at ease with the challenges you are facing — something novices tend to need. But when you are an expert, and you already more or less know what you are doing, it’s negative feedback that can help you do what it takes to get to the top of your game.

As Finkelstein and Fishbach show, novices and experts are indeed looking for, and motivated by, different kinds of information. In one of their studies, American students taking either beginner or advanced-level French classes were asked whether they would prefer an instructor who emphasized what they were doing right (focusing on their strengths) or what they were doing wrong (focusing on their mistakes and how to correct them). Beginners overwhelmingly preferred a cheerleading, strength-focused instructor. Advanced students, on the other hand, preferred a more critical instructor who would help them develop their weaker skills.

In a second study, the researchers looked at a very different behavior: engaging in environmentally friendly actions. Their “experts” were members of environmental organizations (e.g., Greenpeace), while their “novices” were non-members. Each participant in the study made a list of the actions they regularly took that helped the environment — things like recycling, avoiding bottled water, and taking shorter showers. They were offered feedback from an environmental consultant on the effectiveness of their actions, and were given a choice: Would you prefer to know more about the actions you take that are effective, or about the actions you take that are not? Experts were much more likely to choose the negative feedback — about ineffective actions — than novices.

Taken together, these studies show that people who are experienced in a given domain — people who already have developed some knowledge and skills — don’t actually live in fear of negative feedback. If anything, they seek it out. Intuitively they realize that negative feedback offers the key to getting ahead, while positive feedback merely tells them what they already know.

But what about motivation? What kind of feedback makes you want to take action? When participants in the environmental study were randomly given either positive or negative feedback about their actions, and were then asked how much of their $25 study compensation they would like to donate to Greenpeace, the type of feedback they received had a dramatic effect on their motivation to give. When negative feedback was given, experts gave more on average to Greenpeace ($8.53) than novices ($1.24). But when positive feedback was given, novices ($8.31) gave far more than experts ($2.92).

Just to be clear, I’m not suggesting that you never tell the rookie about his mistakes, or that you never praise the seasoned professional for her outstanding work. And of course negative feedback should always be accompanied by good advice, and given with tact.

But I am suggesting that piling on praise is a more effective motivator for the rookie than the pro. And I’m saying, point blank, that you shouldn’t worry so much when it comes to pointing out mistakes to someone experienced. Negative feedback won’t crush their confidence, but it just might give them the information they need to take their performance to the next level.

OS 2 Telkom 2015 (Video) – Waroeng Tegal™


Menjelang akhir tahun, didapatlah HDD berisi foto-foto dan video kami selama di Curug Layung sampai Corpu.

Berhubung fotonya banyak banget, dan videonya cukup lama. Maka untuk sementara silakan nikmati videonya yang sudah saya cut jadi empat bagian (5-7 menit)

1. OS2 2015 Telkom Part 1

Video ini menampilkan masa-masa dari awal sampai di Corpu, berbaris, digunduli untuk yang laki-laki sampai dengan survival di Curug Layung.

2. OS2 2015 Telkom Part 2

Perjalanan OS2 dari Curug Layung, kemudian berpindah sudah mulai masuk ke Corpu. Dimulai dengan ngantuk2 di kelas🙂

3. OS2 2015 Telkom Part 3

Part 3 berisi hari-hari OS2 di Corpu termasuk saat pelaksanaan kegiatan Wanadri di hari Sabtu (Team Building) dan Minggu (Amazing Race di sekitar Bandung)

 

4. OS2 2015 Telkom Part 4

Part 4 berisi hari-hari terakhir di corpu sampai dengan malam inagurasi perpisahan sekaligus pengumuman tempat penempatan OJT 1 di Regional 2,3, dan 4

 

 

OS2 Telkom Wanadri – Waroeng Tegal™


WANADRI !


Bayangkan 280 orang harus mengenal satu sama lain dalam waktu 1 bulan, tentu yang ada baru berkenalan sudah lupa lagi. Ditambah karena banyak pembagian kelompok dan kelas berdasar abjad, masih banyak yang antara abjad awal dan akhir kurang mengenal. Karena itulah wanadri membuat acara agar kami semakin akrab pada akhir minggu (hari sabtu minggu) minggu ketiga. Wanadri aslinya adalah organisasi penjelajah rimba dan kakak-kakak Wanadri jadi fasilitator kami selama dua hari di TCU. Selama dua hari itu kami dibagi ke dalam regu-regu dari huruf A sampai C dan masing0masing huruf terbagi lagi menjadi 5 kelompok. Jadi ada kelompok A1-A5, B1-B5, dan C1-C5.

Hari pertama kami mendapatkan team building di TCU, karena memang masih banyak yang belum kenal. Maka games yang dilakukan lebih babyak untuk saling mengenalkan antara anggota yang satu dengan yang lain dalam huruf yang sama. Huruf A mendapatkan slayer hijau, B mendapatkan merah, dan C mendapatkan biru.

Hari kedua, adalah hari yang sangat menyenangkan bagi kami. Karena pada hari ini kami boleh keluar dari TCU (bayangkan dipingit sebulan ga keluar kemana2) dan melaksanakan Amazing Race keliling kota Bandung dari tempat KAA, Gedung Sate, Gedung UPI (dan disini kami membuat maket), ITB, dll.

Untuk lengkapnya tunggu update

Materi In Class OS 2 Telkom 2015 – Waroeng Tegal™


Setelah mengikuti pembentukan karakter di curug layung, maka kami kembali ke TCU untuk mendapatkan materi in Class.

OS2: Jumlah 280 orang, 6 pleton, 10 kelas

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pembukaan Pelaksanaan Orientasi Sarjana Angkatan 1 Tahun 2015

Jumlah total siswa OS 2 2015  adalah 280 orang (162 perempuan, 118 laki-laki yaps lebih banyak perempuan memang) yang berasal dari berbagai kampus, seperti Tel-U (mungkin sampai 30%), UI, UGM, ITB, ITS, Unpad, Maranatha, Unpar, Unsri, Unhas, dan beberapa Universitas swasta seperti Binus, UKSW, President University, Universitas Trunojoyo Madura, dll (maaf gak apal karena memang beragam sekali). Ada juga yang berasal dari S2 kampus luar negeri, yang pelatihannya digabung dengan periode kami. Dari jumlah tersebut, kami kemudian dibagi ke dalam enam pleton terdiri dari 46 sampai 47 orang. Kami juga dibagi dalam sepuluh kelas, dari A sampai J dimana masing-masing kelas berisi 28 orang.

Struktur organisasi yang ada (Kita Pemilihan Umum) adalah:

  1. Wali Siswa
  2. Wakil Wali Siswa
  3. Menteri Olahraga
  4. Menteri Pendidikan
  5. Menteri Kerohanian (Islam, Kristen dan Katolik, Hindu)
  6. Komandan Pleton
  7. Wakil Komandan Pleton

Selain itu untuk masing-masing kelas dipilih satu orang untuk jadi ketua kelas yang gunanya untuk memastikan kelancaran kegiatan selama di kelas. Terkadang juga kelas kami digabung (2 kelas menjadi 1) yang tentunya jadi padat karena berisi 56 orang.

Saya sendiri menjadi ketua kelas paling akhir kelas J for Jauh di mata Dekat di hati hehe. Dan kalau digabung dapat bersama dengan kelas I.

Para Pelatih dari Pusdikhub

Pelatih adalah sebutan untuk mereka yang merupakan sersan dari Pusdikhub dan bertugas mendampingi kami selama pelatihan di Corpu. Ada beberapa orang pelatih yang berinteraksi secara intensif dengan kami. Ada Letnan Tri Hendratmoko, Sersan Kepala Iswanto, Sersan Engkus Kusnadi, Sersan Taufik, Sersan Army, Sersan Arnold, Sersan Indra dan Sersan Franky (Danton 6 saya).

Yang paling kami ingat bagaimana pelatih Tri menyemangati kita dengan pengalaman-pengalamannya dan bagaimana  beliau juga berjuang dari bawah. Bahkan saat kami pelatihan beliau menerima penghargaan karena menang juara 2 kompetisi menulis.

Pelatih Iswanto khas dengan lawakannya yang tentu jadi bingung kapan bicara serius kapan bercanda. Sementara pelatih yang memandu senam dan sering “membina” mental kami adalah sersan Indra dan sersan Franky.

Sersan Army selalu mengingatkan saat makan untuk “Kurangi suaranya dan  sendoknya“ karena masih banyak terdengar suara bercakap saat mengantri makan dan suara sendok garpu berdenting dengan piring.

Kami juga diajarkan beberapa lagu penyemangat yang selalu kami nyanyikan ketika mobilisasi dari satu tempat ke tempat lain. Dari pelatih kami belajar bahwa semua ada porsinya, ada saatnya serius ada saatnya bercanda. Harus selalu disiplin dan mengutamakan keselamatan.

Mess, Kamar, dan Jaga Serambi

Selama hampir sebulan menjalani pelatihan di Corpu, kami tinggal di dua tempat yaitu mess Widyaloka dekat gedung Indigo dan hotel Ammeerra.

Satu minggu pertama seluruh perempuan berada di hotel Ameerra dan yang laki-laki di mess Widyaloka. Satu kamar ditempati oleh dua, tiga sampai empat orang. Untuk di Widyaloka diatur berdasarkan absensi, sedangkan untuk yang di Ammeerra perempuan masih mengantri bebas sekamar dengan siapa.

Persyaratan utama kamar harus selalu bersih (termasuk kamar mandi), makanan tidak boleh dibawa ke dalam kamar termasuk sisa snack dan permen (walau kadang sembunyi-sembunyi dibawa juga buat jaga serambi). Untuk OS sebelumnya bahkan lebih ekstrim dimana pengaturan posisi baju di lemari dan lipatan selimut pun diatur, semua harus teratur dan rapi.

Jaga serambi sebenernya melanjutkan ritual yang sudah dilakukan per tenda ketika 8 hari awal di curug layung. Yaitu suatu aturan dimana setiap satu jam sekali, akan ada satu kamar yang bertugas untuk menjaga di serambi (lorong depan kamar tempat menginap). Tujuannya untuk memastikan keadaan aman dan jika terdapat temen yang memerlukan bantuan seperti sakit di malam hari. Teorinya begitu, tapi terkadang karena jadwal yang sangat padat beberapa dari kami bergantian pindah tidur ke ruang tempat jaga serambi di Widyaloka dan tertidur di depan pintu kamar di Ammeerra.

No telecommunication device alias HP
Nah ini kelebihan lagi angkatan kami dibandingkan OS sebelumnya, dimana OS sebelumnya benar-benar tidak boleh menggunakan alat komunikasi (disita selama sebulan). Kalau kami masih boleh menggunakan handphone di dalam kamar masing-masing, tanpa HP hanya terjadi selama 8 hari di Curug Layung.

Tujuan sebenernya baik, supaya fokus pada pelatihan terutama saat di kelas supaya tidak asik dengan HP sendiri, selain itu supaya lebih banyak interaksi dengan rekan maupun instruktur tanpa terganggu suara2 alat komunikasi. Sebetulnya dari awal karena kami sudah bersiap dari cerita OS sebelumnya, maka kami sudah menginstal Line (karena bisa sampai 200 member) di laptop.

Untuk laptop sendiri dari minggu pertama kami sudah dibantu untuk terhubung dengan jaringan telkom dan telkom.id. Sehingga dimanapun kami di TCU dapat terhubung dengan internet.

WANADRI !
Bayangkan 280 orang harus mengenal satu sama lain dalam waktu 1 bulan, tentu yang ada baru berkenalan sudah lupa lagi. Ditambah karena banyak pembagian kelompok dan kelas berdasar abjad, masih banyak yang antara abjad awal dan akhir kurang mengenal. Karena itulah wanadri membuat acara agar kami semakin akrab pada akhir minggu (hari sabtu minggu) minggu ketiga. Wanadri aslinya adalah organisasi penjelajah rimba dan kakak-kakak Wanadri jadi fasilitator kami selama dua hari di TCU. Selama dua hari itu kami dibagi ke dalam regu-regu dari huruf A sampai C dan masing0masing huruf terbagi lagi menjadi 5 kelompok. Jadi ada kelompok A1-A5, B1-B5, dan C1-C5.

Hari pertama kami mendapatkan team building di TCU, karena memang masih banyak yang belum kenal. Maka games yang dilakukan lebih babyak untuk saling mengenalkan antara anggota yang satu dengan yang lain dalam huruf yang sama. Huruf A mendapatkan slayer hijau, B mendapatkan merah, dan C mendapatkan biru.

Hari kedua, adalah hari yang sangat menyenangkan bagi kami. Karena pada hari ini kami boleh keluar dari TCU (bayangkan dipingit sebulan ga keluar kemana2) dan melaksanakan Amazing Race keliling kota Bandung dari tempat KAA, Gedung Sate, Gedung UPI (dan disini kami membuat maket), ITB, dll.

Untuk lengkapnya ada di post terpisah ya

Pembinaan Rohani (Binroh) 
Untuk yang muslim mendapatkan bimbingan rohani setiap Selasa malam dan Kamis malam di masjid. Sedangkan untuk yang non muslim menyesuaikan di tempat dan waktu tertentu. Pembimbing selain senior karyawan Telkom juga dari pelatih PUSDIKHUB untuk menanamkan aspek-aspek spiritual pada kami. Itulah yang saya sukai dari TELKOM dibandingkan perusahaan lain, karena secara spiritual sangat diperhatikan. Bahkan setiap waktu sholat Dzuhur dan Ashar pasti pengajar di kelas menghentikan kegiatan untuk sholat. Hal ini juga dirasakan saat OJT lho.

In class training
Kelas J for Jauh di mata dekat di hati
Selain aktivitas rutin di lapangan, kami juga mendapat in class training dengan berbagai materi tentang Telkom, mulai dari apa itu Mind Map?

Sebagian orang mungkin sudah mengenal Mind Map yaitu bagaimana kita berpikir secara radian bukan linier, dan memanfaatkan kobinasi gambar dan warna tidak hanya tulisan. Tujuannya supaya catatan yang kita buat akan lebih mudah dimengerti dan diingat dibandingkan dnegan cuma tulisan. Karena kita memanfaatkan otak kanan dan otak kiri.

Selain itu tentu kami mempelajari Telkom dari sisi bisnis, industri, budaya, sampai dengan informasi terkait anak perusahaan. Ada juga materi tentang personality dan creative thinking. In class training ini ada yang dikemas dengan kelas terpisah (kami dibagi dalam sepuluh kelas), maupun kelas gabungan (2 kelas menjadi 1) dan ada juga kelas gabungan besar bertempat di indigo. Instrukturnya beragam, mulai dari para expert Corpu yang punya pengalaman sekian tahun di Telkom sampai saat akhir minggu pertama (YES…. weekend kami tetap ada materi) Guru Militer dari Pusdikhub yang berbagi tentang Pilar Kebangsaan, Kedisiplinan, Semangat Corsa, dll.

Ngantuk???? Sakit????

Tentu saja dengan jadwal yang sangat padat, ditambah sebelumnya 8 hari di Curug Layung plus jaga serambi membuat fisik kami cukup terkuras. Akibatnya beberapa rekan termasuk saya sempat sakit, sakit kecil sih flu, batuk, demam, mencret, dll. Untung ada Yakes Telkom dekat gedung INDIGO yang siap memberikan obat kalau kita tidak membawa.

Ngantuk boleh (kalau kata Pelatih Is main mata dan pura-pura gila), tapi nggak boleh sampai tidur. Makanya kami di kelas diingatkan untuk saling menegur rekannya yang ketiduran, karena tentu kurang sopan bagi para instruktur yang sedang sharing ilmu di depan.

Tentu yang ditunggu adalah Coffee Break di jam 10 dan jam 3, utnuk menyeduh kopi/teh panas dan sejenak menggerakkan badan. Cara lain efektif adalah banyakin minum sampai ekstrimnya oleskan FRESHCARE ke pipi.

PBB,Yel-Yel, dan Games

Demonstrasi PBB Pleton 6
Peraturan Baris Berbaris (PBB) adalah hal rutin yang kami lakukan selama pelatihan di Corpu. Hampir tidak ada waktu pagi yang kami lewatkan tanpa latihan PBB, tepatnya sebelum apel pagi.

PBB ini dilakukan per pleton, dimana satu pleton terdiri dari 46 sampai 47 orang. Begitupula dengan yel-yel yang harus dibuat per pletonYel-yel yang dibuat tidak boleh ada curhat, mejelekkan maupun terlalu militer. Harus dibuat fun dimana PBB dan Yel-Yel dilombakan di hari sebelum pelatihan berakhir.

Games
Games dilombakan sehari sebelum lomba PBB dan Yel. Ada dua games yang dimainkan ketika itu sepak bola (futsal lapangan) untuk putra per peleton dan tarik tambang putra maupun putri. Seru banget sih bagaimana kami per peleton lebih terbangun kekompakannya.

Untuk tarik tambang, pleton 6 putra berhasil masuk final lawan pleton 5 sayangnya karena keterbatasan waktu tidak jadi dipertandingkan. Sedangkan untuk putri kami harus puas di posisi 3. Pertandingan futsal sendiri kami sudah kalah di awal pertandingan dengan skor tipis 1-0 lawan pleton 3.

Olahraga Sore

Olahraga ‘santai’ sore hari
Olahraga bisa jadi merupakan aktivitas yang jarang aku lakuin selama kuliah. Tapi gak ketika di TCU, selain olahraga wajib tiap jam lima subuh kita boleh melakukan olahraga ringan di sore hari seperti jogging sambil menunggu waktu magrib. Sebetulnya pada pingin main basket, dll tapi kadang kami pun baru selesai kelas jam 17.30. Tapi kalau memang selesai bisa cepat, beberapa dari kami pun olahraga seperti tenis meja sampai karaoke bareng di dekat lapangan menembak.

CSR

Karena kami merupakan angkatan terbesar OS sampai 280 orang, maka kegiatan CSR tidak dilakukan dengan melakukan kunjungan langsung. Mengingat mobilisasi agak susah dan tempat yang dikunjungi harus yang benar-benar besar. Maka kami menyumbang masing-masing individu ke ketua kelas masing-masing untuk kemudian diserahkan ke Eman sebagai seksi rohani Islam untuk kemudian diteruskan kepada tempat-tempat ibadah.

Mitigasi Bencana dan Renungan Suci
Simulasi Gempa
Pernah bayangin gak tengah malem pas asik tidur tiba-tiba ada sirine kenceng dan ada suara-suara teriak “Gempa Gempa !” ? itu terjadi di minggu ketiga pelatihan kami. Sebenernya udah mulai curiga ketika habis makan malam ada materi tentang mitigasi bencana, dan sebelum bubar pelatih bilang “Kalo seandainya nanti terjadi, siapin makanan secukupnya, berkas-berkas penting, dan baju di satu tas yang gampang dibawa”. Untung sebelum tidur udah disiapin. Bahkan beberapa dari kami tidur dengan baju PDL lengkap dan menyiapkan tas berisi barang-barang penting. Dan bener aja, sekitar jam 10 kami dibangunkan oleh sirine itu untuk dikumpulin di lapangan yang gelap gulita.

Ada teman terlambat, mendapatkan hukuman merayap dari ujung gedung S2 di lapangan sampai tempat renungan suci di masjid lama.

Setelah itu dilanjutkan dengan renungan suci. Kami diingatkan dengan keluarga kami, dan apa yang akan kami jalani setelah pelatihan selesai. Diingatkan dengan tanggung jawab kami, tidak hanya untuk Telkom, tapi untuk Indonesia. Kemudian diguyur air oleh para senior Telkom dan mencium bendera merah putih. Karena hampir tengah malam dan dingin, kami mendapatkan bonus ada catering wedang jahe dan rebusan pisang.. enaak dan hangattt.

Closing Ceremony

Hari penutupan pelatihan mungkin adalah hari yang kami nantikan ketika awal pelatihan. Tapi kenyataannya, ada rasa sedih yang tertinggal ketika kami menyadari bahwa kedekatan kami satu sama lain justru baru terbangun di hari-hari terakhir. Ketika itu rasanya deg-degan juga ketika harus menghadapi pengumuman penempatan OJT kami. Beruntung, kami masih disebar di sekitar Regional 2 (JABODETABEK), 3 (JABAR) dan 4 (JATENG). Cerita mengenai OJT ada di post lainnya. Setidaknya masih berdekatan dan belum tersebar jauh. Closing ceremony saat itu membuat kami berbaur, tidak hanya siswa OS, tapi juga pelatih dari Pusdikhub dan management Corpu. Malam itu ditutup dengan band dari kami siswa untuk akhirnya menyanyi dan joget bareng. Mulai dari malam hari pulang dari acara, satu persatu dari kami meninggalkan mess untuk pulang dan melanjutkan perjalanan menuju tempat OJT masing-masing.

Sampai ketemu kawan semua

Kerja di Telkom 2015 – Waroeng Tegal™


Karena akan ada beberapa post mendatang tentang Kegiatan selama kerja di Telkom dari awal rekrutmen sampai nanti bener-bener kerja, maka coba di index dulu deh di post ini yang akan link ke post-post lainnya.

I. Proses rekrutmen 

Proses rekrutmen diawali dari pendaftaran sampai dengan lulus terpampang nama kita sebagai salah satu MT di web rekrutmen telkom

II. Management Trainee

Proses pendidikan baik di kelas maupun pendidikan karakter, meliputi

1. Pendidikan karakter di Curug Layung

2. Materi in Class di Corpu

3. Kegiatan Team Building bersama Wanadri

Lagu-lagu yang diajarkan selama pelatihan
Ada kegiatan yang kami tidak lakukan sebagaimana OS-OS sebelumnya yaitu company visit ke anak perusahaan (OS1 sebelumnya ada ke Jakarta) dan project CSR

III. OJT (On The Job Training)

Saatnya bagi kami untuk mulai mengenal dunia kerja, bagaimana target dengan kendala yang ada serta berusaha untuk mencapainya